Get a Glitter Calendar Click Here

Selasa, 2 Ogos 2011

Apa kabar, kekasihku?

Satu tahun kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu di sana?
Kekasihku, aku sangat merindukan mu. Rindu pada tawamu yang bak denting lonceng di telingaku. Rindu senyum cerahmu yang menyejukkan kalbuku dan mampu mencabut semua bebanku. Pada aroma tubuhmu sehabis mandi yang wangi dan memabukkan.
Aku teramat rindukan mu.
  
Kekasihku, berapa kali kamu memimpikanku dalam seminggu?
Kamu selalu hadir dalam setiap mimpiku. Setiap kali aku memejamkan mata, kamu menari-nari dalam anganku, meletupkan gairah dan emosiku. Sungguh, aku rindukanmu. Benar-benar. Tolong, jangan sesekali mengatakan yang kau tidak pernah memikirkan aku.

Ah ya! Aku lupa nak bagitau, tiga bulan lalu teman baik kita bernikah.Ingat tak Boo dan Andriana? Akhirnya pasangan mereka dah melangkah ke jinjang pelamin berkat jasa kita berdua dulu. Mereka menitipkan salam hangat untukmu dan berharap kau segera pulang ke Malaysia. 

Mereka juga mengharapkan kita segera menyusul. Sambil bergurau, Boo mengingatkan aku tentang lelaki-lekai yang punya rupa dan penakluk wanita hanya menggunakan ayat-ayat- manis mereka. Benarkah? Apakah kau  pernah tergoda dengan mereka?

Maaflah sebab aku tanya tentang benda nie. Bukannya aku tak percaya kekasihku. Aku cuma lelaki biasa yang tak punya apa-apa untuk dibanggakan di depanmu, selain cinta dan kesetiaan. Dua hal yang tak boleh  dibeli di supermarket mana pun kerana harganya sangat mahal dan stoknya sangat terbatas di jaman sekarang. Beza dengan title yang boleh dihargai dengan wang ringgit atau rumah mewah dan kreta Mercy yang mungkin hasil rasuah. Tapi aku, si miskin ini, boleh menjanjikanmu dua hal yang yang itu jew, sebab cuma itu yang aku ada untukmu, kekasihku.

Aku hanya percaya satu hal, Aku akan menunggumu hingga tahun itu, seperti janji kita. Kemudian kita akan mengikat janji di depan penghulu. Kita akan hidup bahagia. Seperti akhir cerita dongeng: bahagia untuk selama-lamanya.
Tahukah kamu? Aku dah start bangunkan rumah kita, di atas sepetak tanah warisan orang tuaku, setahap demi setahap. Tiba waktunya kau pulang nanti, kita akan menjadikannya pondok cinta kita. Aku mengirimkan juga rancangan rumah kita, agar hati kita boleh bersatu di dalamnya. Aku pasti membangunkannya untukmu dan aku akan membiarkanmu yang memilih cat dan apa perabot yang sesuai.

Kekasihku, rasanya aku ingin terbang ke sana sekarang juga. Apa daya aku hanya laki-laki miskin. Seandainya aku punya duit banyak dan kenalan di mana-mana, seperti Gayus Tambunan.
Menurutku, negeri kita penuh dengan orang-orang yang hebat. Tinggal bagaimana pemerintah memanfaatkan dan mengembangkannya, hehehe! Yah, seandainya aku adalah Gayus Tambunan, mungkin saat ini aku sedang menikmati lekuk wajah dan tubuhmu dari dekat, bukan sekadar berkhayal bercinta denganmu dalam mimpi.

Maafkan bila isi suratku tidak tentu arah. Aku bukan pujangga, tentu saja. Kau mengenalku sangat baik. Aku bukan sarjana. Aku tak dapat menulis seromantis Kahlil Gibran atau semesra roman-roman picisan. Aku menulis dengan hatiku dan inilah isi hati yang kucurahkan untukmu, kekasihku, agar kamu sedar dan tahu bahwa melalui lembaran-lembaran surat ini ingin kuperlihatkan gunung rinduku terhadapmu.

Aku suka sangat melukis wajahmu di antara bintang-bintang malam, dari celah jendelaku yang sempit. Membayangkanmu mengenakan long dress yang kubelikan di pasar malam. Kamu masih menyimpannya kan? Yang warnanya sebiru langit tue. Kamu nampak lebih cantek dari bintang yang paling terang sekali pun. 

Aku rindukan, kekasihku!
Aku bersedia melakukan apa saja untukmu. Menunggu seribu tahun pun aku sanggup. Apalagi hanya satu bintang, seperti pintamu, aku ambilkan di langit. Bintang yang sinarnya mulai redup itu, yang sangat cemburu melihat kecantikan dan kemolekanmu. Yang selalu berusaha mengganggu cahayamu di mataku

Dengarlah kekasihku, aku berjaya mengambilnya dari semesta. Aku berjaya mengggenggamnya dalam kepulan tanganku! Bintang itu memang tidak tahu diri dan tak mengenal adat. Dia masih saja mencacimu dan menyebutmu anak haram jadah. Maafkan kekasihku, aku kalap. Tidak sadar mengayunkan golok dan menebas urat nadi kehidupan si bintang.

Maafkan kekasihku, karena telah menghilangkan nyawa ibu tirimu.
Polis mengejarku dan menangkapku. Demi kamu, aku tidak mau terus berlari. Aku tidak mau disebut lelaki pengecut. Bagiku, perempuan tua itu patut mati! Dia tidak berhak merendahkan martabatmu, yang sudah membanting-tulang membantu menyambung hidupnya. Dasar perempuan tua tak tahu berterima kasih! Dia patut mendapatkan ganjaran dari perkataannya.

Aku sangat beruntung, polis itu masih berbaik hati memberiku kertas dan pulpen. Rupanya masih ada aparat hukum yang memiliki hati nurani. Dan dari tempat gelap inilah aku menuliskan surat cinta untukmu.
Kekasihku, kembalilah sebelum 2012 bila tidak ingin melihatku membusuk di sini. Aku mencintaimu, kekasihku.
Jangan biarkan tangan-tangan jahil dan tidak bertanggung jawab mengambil cinta kita. Bertahanlah untukku, kekasihku. Jangan biarkan pemerintah memandang sebelah mata gelar pahlawan devisa yang kau sandang. Kau adalah aset berharga negara. Aku juga bertahan untukmu di sini, walaupun hidup kurang baik dan tanpa pakaian yang layak.

Pulanglah, kekasihku.
Aku menunggumu. Dan aku mencintaimu. Selalu.
Dari kekasih yang selalu merindukanmu.
tenang plak tengok air laut nie :)



5 ulasan:

Dewa Hati berkata...

siapakah kekasih mu>,,hehehe

Nazri Razra berkata...

Yer... siapakah dianya..heheh

Afiq Din berkata...

baru bace 2 perenggan da ngntuk...
hehe...
pnjg sgt

Hana teen top berkata...

kihkihkih....aku baca pun aku ngantuk gak..ahahha...kekasihku sebenarnya dah cabout lari...huwaaa >.<

Saiazuan berkata...

owh sweeeeeet :D

siapakh gerangan si dia :)